Langsung ke isi

Pencarian My Own Edward Cullen

2 Maret 2009

28 Januari 2009, pulang sekolah.

Aku menghembuskan napas pelan ketika aku mengizinkan kakiku membawaku tak tentu arah. Mataku menatap ke depan, sekilas kulihat gerombolan anak laki – laki seusiaku melirikku. Kulitku yang agak pucat terasa sedikit merona merah karena terpaan sinar matahari. Mungkin orang – orang bisa mengiraku mayat hidup jika mereka mengetahui pikiranku tak ada di tempat itu.

Tanpa sadar, tiba – tiba aku sudah sampai di depan rumah. Kakiku memang sudah hapal jalan pulang ke rumah. Memang, rumahku tidak terlalu jauh dari sekolah. Bahkan ayahku pernah bergurau kepadaku, pada saat perang dan dimana orang – orang harus tiarap untuk berjalan, tak bisa bergerak lagi selain merayap, bahkan walau di dalam bangunan, aku dapat sampai sekolah dalam waktu kurang dari 1 jam.

Aku membiarkan tanganku membuka gembok rumah dan pintu depan. Semilir angin berhembus dingin di belakangku. Aku cepat – cepat masuk dan menutup pintu.

\”Bagaimana harimu?\” tanya Bunda ceria, berbeda denganku yang, kurasa terlihat jelas mukaku kalau aku sedang murung dan terlihat seperti zombie.

\”Bunda bertanya tentang keadaan sekolah, perilakuku di sekolah, atau suasana hatiku?\” tanyaku. Bagiku, konteks pertanyaan Bunda merupakan konteks pertanyaan bermaksud ganda. Oh maaf, lebih dari ganda. Itu triple meaning.

\”Semuanya.\”

\”Sejujurnya, bagus, membaca novel dan murung,\” Bunda mengerutkan dahi. Ia tidak mengerti.

\”Aduh, Bunda,\” aku mengeluh. \”Bagus, karena hanya 2 guru yang mengisi seluruh jam mata pelajarannya karena ada porseni. Membaca novel, karena yang kulakukan hanya membaca novel Twilight milik Ashley. Dan murung, karena perasaanku murung setelah aku melepaskan tanganku dari buku itu.\”

Kerut di dahi Bundaku tak juga mengendur. Itu sama saja berarti \’mengapa kau seperti itu?\’

<<to be continued.. udah malem>>

ketinggalan!! (‘critics to TWILIGHT film’ version2)

28 Januari 2009

oiaia,, lupa. nih ada yang ketinggalan ditulis.

 

siapa sii tuh yang nyebarin tulisan midnight sun di internet ?? ilegal lg !! kan jadinya Stephanie Meyer sebel, trus gg mao lanjutin lagi. kalo gg disebarin, mungkin Midnight Sun uda terbit kalii!! brengsek dasar tuh orang!!

 

bdw, buat yang mau liat draft nya Midnight Sun, di web official nya udah dipasang kok. jadi yang mau liat tingggal klik stephanie meyer.com aja. disitu udah ada kok. tapi tetep aja yg nyebarin itu brengsek!! *sigh*

critics to TWILIGHT film!!

28 Januari 2009

iaia, emang udah lama premiere sihh.. tapi tetep aja keren!!

walaupun baru baca setengah bukunya, tuh buku udah buat guu tergila gila sama tokoh Edward Cullen ! cowok misterius tapi tampan… uhh…. 

 

 

 

tapi kayanya kuk lebih gantengan Edward Cullen di khayalan guu yak dibandingin film nya?? emang blum nonton sii, tapi kalo diliat dr beredarnya foto di internet, terus liat di thriller nya, Robert Pattinson menurut guu gg pantes, soalnya keliatan tuaa bgdd. hei, vampire yang mengaku 17 th gg bisa berubah penampilannya cuy! dia kan gg bsa tumbuh lagi. gg bsa brubah lagi. sementara Robert Pattinson?? 22 th. beda nya aja 5 th. yah, mungkin ini konyol sih, tapi kan aneh buat orang yang udah baca bku nya, trus baru nonton. kan jauh bgdd ama novel nya. Robert Pattinson jga ikut casting gra gra tau lawan mainnya Kristen Stewart. kalo bukan Kristen Stewart mana mungkin dia mau main?? (dari kapanlagi.com). mana terus Kristen Stewart (guu gg slah tulis kn??). dya sma sekali jauh dari kata CANTIK di mata guu. keliatan di thriller nya. bagi guu dia tuh mirip Hermione Granger di film pertama Harry Potter tahun kesatu. yah,, sebetulnya emang harus begitu sii, soalnya di novel twilight kan Bella Swan gg ngerasa dirinya cantik.

 

 

terlepas dari itu, guu ngehargain kuk gimana mereka berakting. yah, mereka pasti udah ngasi yang terbaik buat para penikmat film di penjuru dunia.

 

well,, (jadi ngikutin bahasa twilight alih bahasa indonesia nih!) guu tetep suka kuk novelnya twilight. soalnya guu bisa ngebayangin sosok imaginer Edward Cullen menari nari dalam otak guu! sayang belum sempet namatin, soalnya pinjem buku temen skul, sih!

Belajar Bahasa Indonesia (drama antonim)

23 Desember 2008

 

Kelas yang tadi ribut – ribut kini menjadi sunyi. Guru Bahasa Indonesia yang paling ditakuti dan disegani oleh semua murid telah masuk ke dalam kelas. Wajahnya garang seperti harimau kelaparan.

Murid – murid : “Selamat pagi, Bu Guru!”

Bu Guru (dengan suara melengking) : “Mengapa bilang selamat pagi saja? Kalau begitu, siang, sore dan malam kalian mendoakan saya tidak selamat ya?”

 

Murid – murid : “Selamat pagi, siang dan sore Bu Guru…”

Bu Guru : “Kenapa panjang sekali? Tidak pernah orang mengucapkan selamat seperti itu! Katakan saja selamat sejahtera, bukankah lebih bagus didengar dan penuh makna? Lagipula ucapan ini meliputi semua masa dan keadaan.”
Murid – murid : “Selamat sejahtera Bu Guru!”

Bu Guru : “Sama – sama, duduk! Dengar sini baik – baik. Hari ini Bu Guru mau menguji kalian semua tentang perlawanan kata atau antonim kata. Kalau Bu Guru sebutkan pertanyaannya, kamu semua harus cepat menjawabnya dengan lawan katanya, mengerti?”

Murid – murid : Mengerti Bu Guru…”

 

Guru : “Pandai!”
Murid – murid : “Bodoh!”

 

Guru : “Tinggi!”

Murid – murid : “Rendah!”

 

Guru : “Jauh!”

Murid – murid : “Dekat!”

 

Guru : “Berjaya!”

Murid – murid : “Menang!”

Guru : “Salah itu!”

Murid – murid : “Betul ini!”

Guru (geram) : “Bodoh!”
Murid – murid : “Pandai!”

Guru : “Bukan!”

Murid – murid : “Ya!”

Guru (mulai pusing) : “Oh Tuhan!”
Murid – murid : “Ya Hamba!”

 

Guru : “Dengar ini…”

Murid – murid : “Bicara itu…”

Guru : “Diam!!!”

Murid – murid : “Ribut !!!”

 

Guru : “Itu bukan pertanyaan, bodoh!!!”

Murid – murid : “Ini adalah jawaban, pandai!!!”

 

Guru : “Mati aku!”

Murid – murid : “Hidup kami!”

Guru : “Saya rotan baru tau rasa!!”
Murid – murid : “Kita akar lama tak tau rasa!!”

 

Guru : “Malas aku ngajar kalian!”

Murid – murid : “Rajin kami belajar bu guru…”

 

Guru : “Kalian gila semua!!!”

Murid – murid : “Kami waras sebagian!!!”

Guru : “Cukup! Cukup!”

Murid – murid : “Kurang! Kurang!”

 

Guru : “Sudah! Sudah!”

Murid – murid : “Belum! Belum!”

Guru : “Mengapa kamu semua bodoh sekali?”

Murid – murid : “Sebab saya seorang pandai!”

 

Guru : “Oh! Melawan, ya??!!”

Murid – murid : “Oh! Mengalah, tidak??!!”

 

Guru : “Kurang ajar!”

Murid – murid : “Cukup ajar!”

Guru : “Habis aku!”
Murid – murid : “Kekal kamu!”

Guru (putus asa) : “O.K. Pelajaran sudah habis!”

Murid – murid : “K.O. Pelajaran belum mulai!”

 

Guru : “Sudah, bodoh!”

Murid – murid : “Belum, pandai!”

Guru : “Berdiri!”

Murid – murid : “Duduk!”

 

Guru : “Bego kalian ini!”

Murid – murid : “Cerdik kami itu!”

Guru : “Rusak!”
Murid – murid : “Baik!”

 

Guru (stress) : “Kamu semua ditahan siang hari ini!!!”

Murid – murid : “Dilepaskan tengah malam itu!!!”

 

Bu Guru : “???&^&*(#%!!!”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.